Daftar Blog Saya

Selasa, 28 Desember 2010

kunjungan temprina

TEMPRINA
1. Direktur Misbahul Huda dan Akhmad Djunaidi
2. Kantor pusat (Graha Surabaya, Jawa Pos) didirikan tahun 1997 ada 54 percetakan
3. Mutu-mutu
• Ketepatan waktu
• Jumlah sudah sesuai yang diminta
4. SCJJ (sistem cetak jarak jauh)
5. On klik servis (cara memesan Koran secara online) yang dimiliki temprina
• Devisi designer
• Sott ware design agar memiliki kualitas yang bagus
• CTP computer to plate, langsung cetak
• CMS agar hasil cetakannya bagus
• Web rotavy
• Shetted printing
6. Juga menerbitkan buku, majalah, buku penelitian
• Jawa Pos ekspedisi mandiri
• 9 printing plant

Sabtu, 25 Desember 2010

materi 2

Menulis di Media Massa

Oleh Khoirul Anwar

Batasan

Kata menulis di sini kita batasi dengan menulis artikel ilmiah populer di media massa. Bukan tulisan dalam bentuk berita/informasi, puisi, cerpen, novel, dkk.

Mengapa menulis di media sulit?

Media, terutama Koran, sangat banyak menerima artikel dari luar. Rata-rata 10-30 artikel per hari. Misalnya Jawa Pos (25-30 artikel per hari), Kompas (30 ke atas), Republika (15 artikel), Radar Malang (5 artikel), dll. Karena banyaknya pengirim, maka persaingannya sangat tinggi.

Apakah bukan berarti tidak bisa ditembus?

Bisa. Tapi harus tahu trik dan tipsnya.

Caranya?

  1. Cari tahu karakteristik media yang akan Anda kirimi artikel.
  2. Cari momen yang tepat saat Anda mengirim artikel.
  3. Cari tahu bagaimana media menerima artikel dari luar
  4. Pelajari seperti apa model artikel yang diterima yang akan Anda kirimi.

Seperti apa karakteristik media?

Media memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan itu terkait misi dan segmen media. Contoh: Jika Anda mau mengirim artikel keagamaan, jangan kirim ke Jawa Pos. Karena Jawa Pos suka artikel actual karena Jawa Pos berbasis umum. Kirimlah ke Republika atau media yang berbasis agama.

Jadi sekali Anda keliru mengirim ke media yang tidak sesuai dengan misi tulisan, maka akan sangat sulit menembus media itu.

Seperti apa momen yang tepat mengirim artikel?

Media massa menyukai momen dan aktualitas. Maka dari itu perhatikan momen, karena itu sangat penting. Dengan mengetahui momen, Anda akan bisa dengan cepat menentukan akan menulis artikel model apa.

Apa saja model artikel itu?

  1. Artikel situasional
  2. Artikel aktualitas
  3. Artikel getaran
  4. Artikel misi

Bagaimana media menerima artikel dari luar?

Biasanya media menunjukkan cara bagaimana orang luar mengirim artikel. Ada banner atau disclaimer yang dibuat media tersebut. Lakukan apa permintaan dalam disclaimer media itu.

Dari sisi penulis, apa yang harus diperhatikan?

Media sangat memperhatikan kapabilitas penulis. Karena itu jika Anda ingin artikelnya diterima, maka kapabilitas harus diperhatikan. Jika Anda ahli hokum menulislah hukum, dll.

Bagaimana memulai menulis?

Ada tiga masalah klasik yang dihadapi penulis. (1) Tidak punya ide menulis, (2) sudah punya ide tapi tak bisa memulai, dan (3) sudah bisa menulis tapi di tengah jalan macet. Karena itu tiga masalah klasik ini harus dipecahkan dulu.

Mau menulis ide buntu, bagaimana membukanya?

Berpikirlah peka terhadap hal-hal yang aktual, kedekatan, getaran kuat, ketokohan, situasional, sensasional, human interest, dan sesuatu yang baru. Karena itu banyak baca merupakan kewajiban bagi penulis.

Bagaimana memulai menuliskan ide?

- Jangan takut memulai menulis.

- Mulai dari hal-hal ringan. Misalnya kutipan (langsung atau tak langsung), pertanyaan, atau data-data ringan.

Bagaimana mengatasi kemacetan menulis?

Menulis itu sebenarnya menjalankan segitiga pemikiran. Ide-Pertanyaan-Jawaban. Maka, jika berhenti pertanyakan dan jawablah kembali ide awal Anda.

Apakah menulis harus ada outline?

Bisa juga, bisa juga tidak. Terserah. Tapi yang terpenting menulis itu harus mengalir.

Kok sulit ya?

Menulis artikel itu mudah. Jika Anda bisa bicara, maka Anda pula bisa menulis.

* Penulis adalah pemimpin redaksi Radar Malang

materi 1

FAQ

Menulis Berita dan Artikel

Oleh Khoirul Anwar

Apa itu berita?

Berita adalah kumpulan dari fakta-fakta nyata yang disusun menjadi satu informasi utuh dan komprehensif. Sebuah kumpulan fakta yang memenuhi unsur berita setidaknya wajib memiliki unsur 5 W 1 H.

Siapa yang berhak membikin berita?

Tidak hanya jurnalis/wartawan, tapi semua orang. Karena pada dasarnya setiap hari antar-orang sudah membuat berita. Hanya saja kebanyakan tidak disampaikan secara teks, tapi audio (pembicaraan). Jadi pada prinsipnya Anda semua adalah wartawan.

Bagaimana cara membuat berita?

Ada empat tahapan yang dapat dikerjakan seorang pembuat berita. Yakni (1) how to get, (2) how to comphare, (3) how to write, (4) how to expose.

Mengapa begitu?

Empat langkah itu merupakan pekerjaan seorang jurnalis dalam menyampaikan informasinya pada pembaca/pendengar/pemirsa. Tahapan-tahapan itu tentu sebenarnya sudah sering kita lakukan meski kadang kita tidak menyadarinya.

Bagaimana memulai tahapan-tahapan itu?

Pertama, how to get. Bagaimana seseorang mencari dan mengumpulkan fakta-fakta informasi yang akan disampaikan. Fakta-fakta itu bias berupa, (1) data hasil wawancara, (2) data hasil pengamatan panca indera, (3) data angka-angka kuantitatif, dan (4) data knowledge asset yang kita miliki.

Lalu, cara mendapatkan data-data itu?

(1) Fakta wawancara tentu mendapatkannya berasal dari narasumber. Karena itu sebelum menemukan narasumber, (a) tentukan dulu apa yang akan Anda tulis, (b) berapa narasumber yang Anda butuhkan, (c) data dan fakta apa yang Anda tanyakan pada narasumber. Jika tiga persiapan itu sudah terpenuhi maka kumpulkanlah fakta-fakta sebanyak-banyaknya. Fakta bisa berupa fakta kualitatif dan kuantitatif.

(2) Fakta yang didapat dari pengamatan itu bisa kejujuran subjektivitas Anda atau hasil pengamatan orang lain yang Anda ceritakan ulang.

(3) Data-data angka di sini adalah data kualitatif.

(4) Knowledge asset di sini adalah pengetahuan Anda tentang berita yang akan Anda tulis. Dengan catatan besar bahwa knowledge asset Anda adalah jujur, tidak mengada-ada, atau mereka-reka.

Bagaimana memulai how to comphare?

Setelah semua fakta-fakta yang anda butuhkan untuk membuat berita, maka tugas Anda adalah menyatukan fakta-fakta yang terpisah itu menjadi satu kesatuan. Fakta yang saling mendukung disatukan menjadi satu pokok bahasan. Sedang fakta yang berbeda bisa dibuat berita tersendiri. Proses seperti ini disebut peng-angel-an.

Apa itu angle berita?

Angle adalah sudut pandang. Jadi angle berita adalah sudut pandang yang berbeda dalam berita.

Caranya?

Peng-angel-an dapat dilakukan dengan melihat sisi nilai beritanya. Yakni (1) aktualitas, (2) kedekatan (proximity), (3) getaran (magnitude), (4) sesuatu yang baru (new), (5) ketokohan, (6) menyentuh (human interest), (7) dramatik, (8) situasional, (9) sensasional, (10) tren.

Kalau sudah bisa membuat satu kesatuan utuh, bagaimana menulisnya (how to write)?

Menulis berita sama dengan bercerita. Bahasanya dengan bahasa sehari-hari. Karena penerima informasi Anda adalah semua orang dari level yang berbeda-beda.

Apa saja yang harus terpenuhi?

Yang pasti adalah 5 W 1 H. Lalu, untuk menjaga agar informasi yang sedikit tapi sudah sampai (meski tidak lengkap), dikenallah istilah lead (kepala) berita. Lead bukan kesimpulan berita, tapi kepala berita. Sebuah lead dalam berita terletak pada paragraf pertama.

Apa macam-macam berita?

Ada; (1) strait news (singkat, padat, cepat), (2) features (berisi gambaran, suasana, diskriptif sifatnya), (3) depth news (panjang, mendalam, dan investigative sifatnya).

Bagaimana mebuat berita agar enak dibaca?

Mudah. Bahasanya bikin bahasa sehari-hari. Kalimatnya tidak panjang, pendek-pendek saja. Atau kalimat berirama; pendek-pendek-panjang, pendek-panjang-pendek, dll. Selain itu logikanya mengalir.

Cara membuat logika mengalir bagaimana?

Berpikir sesuai abjad. A-B-C-D-..dst.

Terakhir, how to expose?

Bebas. Informasi bisa disampaikan lewat media apa saja. Tulisan (koran, majalah, tabloid, bulletin, selebaran, web, blog, dll), lisan (cerita ke teman, radio, dll), coretan (lukisan dll), foto.

Bagaimana menulis artikel?

Sebelum menulis artikel, sebaiknya mengenal tiga penyakitnya. Yakni, (1) keinginan besar, tapi tak punya ide; (2) sudah punya ide tapi tak bisa memulai; dan (3) sudah bisa memulai tapi berhenti di tengah jalan.

Bagaimana mengatasinya?

(1) Jika ingin menulis tapi tak punya ide, kembalikan pada: (a) aktualitas, (b) magnitude, (c) situasional, (d) new.

(2) Untuk memulainya coba gunakan; (a) cerita fiksi, (b) kutipan langsung/tak langsung, (c) data-data, dan (e) knowledge asset kita.

(3) Berhenti di tengah jalan, atasi dengan; (a) buatlah poin-poin pikiran per paragraf, (b) ingatkan kembali apa yang menjadi tujuan awal Anda menulis, (c) berhenti lalu tanyalah pada diri Anda sendiri tentang hal-hal yang belum tertuang dalam tulisan itu.

Bagaimana menembus media massa?

(1) Perhatikan misi dan karakteristik media itu, sebab setiap media memiliki misi yang berbeda soal penerimaan artikel.

(2) Perhatikan tata cara yang sudah diberikan media pada penulis dari luar.

(3) Pakailah bahasa yang sesuai dengan nafas media yang dituju.

(4) Kirim lewat email atau surat (dengan identitas dan rubrik yang dituju dengan jelas).

(5) Anda bisa confirm ke penanggung jawab rubrik artikel untuk menanyakan apa artikel anda sudah masuk.

Jika tidak diterima?

Ya sabar saja. Saya saja dulu pengalaman menulis di koran terhitung pada tulisan ke 149 baru diterima. Yang penting coba dan coba lagi.

Ada lagi?

Tidak ada. Dan terima kasih, kita bahas dalam latihan.

* Pemimpin Redaksi Radar Malang

Selasa, 21 Desember 2010

Berita Q : Lalu Lintas

Ketika ku lewati jalan menuju dieng, banyak kendaraan yang menerobos jalan ketika ada seorang petugas memberikan tanda untuk berhenti dulu, aku dengan temenku hanya tersenyum,petugasnya kelihatan marah, tapi masih sempatnya tersenyum, orang yang menerobos itu mungkin ingin cepat sampai tujuan. Betapa sabarnya orang yang menjadi petugas itu.
Aku pun berhenti ketika di suruh berhenti oleh petugas, kita harus mneghargai orang lain dan juga mematuhi rambu – rambu lalu lintas.demi keselamatan kita juga.

Berita Q : Siswi SMP Tewas Terseret Truk

Kecelakaan mengakibatkan korban jiwa, pada tanggal 16 desember di Jalan Raya Panglima Sudirman Malang. Dita Puspitasari, anak berusia 14 tahun, warga Jalan Raya Taman Sulfat XIII/11A Malang, tewas setelah motor yang dikendarainya ditabrak truk gandeng, yang dikemudikan Mohammad Ali, 56 tahun, asal Jalan Ternate Gg IV Malang. Siswi kelas 8G SMPN 4 Kota Malang ini tewas di tempat kejadian setelah tubuhnya terseret roda truk hingga 11 meter.

Kecelakaan tersebut terjadi pukul 06.15. Dita yang hendak berangkat sekolah diantar oleh ayahnya. Tidak seperti biasa menggunakan mobil, Sukandar yang juga Direktur BPR Sedaya Dana Makmur, Tumpang ini mengantarkan Dita dengan mengendarai motor. Mereka melewati rute Jalan Panglima Sudirman.

Feature Q : BIMBINGAN PADA ANAK

Sebagai orang tua sekaligus sebagai pendidik bagi anak harus memiliki kesabaran untuk memulai menyentuh titik peka anak dengan memberi perhatian khusus pada hal-hal yang amat menarik perhatian anak. Hal ini perlu dilakukan untuk memperoleh tanggapan dan perhatian anak. Dengan demikian anak tentunya akan terbuka menerima pendapat dengan perasaan senang dan gembira, bebas dari perasaan tertekan, takut dan terpaksa. Pada akhirnya anak akan menerima pemahaman, betapa penting dan dibutuhkan proses belajar untuk mencapai tujuan (memperoleh keperkasaan menurut daya nalarnya). Dalam hatinya pun tergerak untuk melakukan dan merencanakan kegiatan belajarnya. Hanya saja di sini dibutuhkan kesabaran anda untuk melakukan pendekatan kepada anak.

Beberap hari lalu saya sempat berdiskusi dengan teman sekos saya, mulanya bercerita tentang adik laki-lakinya yang malas untuk belajar padahal sebentar lagi dia akan menghadapi ujian akhir kelulusan SD. Sebuat saja namanya “Andy”, Andy ini termasuk anak yang belum bisa belajar dengan baik atau masih malas-malasan, kalaupun dia belajar itu hanya untuk menghindari omelan kakak dan ibunya yang selalu menyuruhnya untuk belajar, dan bisa ditebak selama dia di ruang belajar yang dilakukan pun hanya pura-pura belajar atau belajar asal-asalan, sekolah pun hanya sekedar sebagai rutinitas seharian yang hanya berlalu begitu saja, sekedar menuruti perintah orang tua.

Apa yang terjadi pada Andy sebenarnya juga banyak dialami anak-anak usia sekolah di masyarakat kita. Tak terhitung lagi berapa banyak orang tua yang mengeluh dan kecewa dengan nilai anaknya yang jeblok (jelek) karena anaknya malas belajar, dan sebaliknya tidak jarang juga kita menemukan anak yang ngambek atau menangis gara-gara selalu disuruh belajar. Ada orang tau yang memarahi anaknya, mengancam si anak untuk tidak akan membelikan ini dan itu kalau si anak tidak belajar, membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain, atau bahkan ada orang tua yang mengunakan cara kekerasan (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Jelas semua ini akan sangat berpengaruh pada fisik maupun psikis siswa.