Daftar Blog Saya

Jumat, 17 Desember 2010

artikel : Wawasan Al-Qur'an

Wawasan Al-Qur'an

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

 

LAILAT AL-QADAR

 

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara

tentang surat Al-Qadar.

 

Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam

Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra'.  Para   ulama

Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat

Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat

Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.

 

Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas

perintah  Allah  Swt.,   dan   dari   perurutannya   ditemukan

keserasian-keserasian yang mengagumkan.

 

Kalau  dalam surat Iqra' Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim)

diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu  antara  lain

adalah  Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat

Al-Qadar  ini  berbicara  tentang   turunnya   Al-Quran,   dan

kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.

 

Bulan  Ramadhan  memiliki  sekian  banyak  keistimewaan, salah

satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran

"lebih baik dari seribu bulan."

 

Tetapi  apa  dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali

saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang

lalu,  atau  terjadi  setiap  bulan  Ramadhan  sepanjang masa?

Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang  yang  menantinya

pasti  akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik

material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya  air,

heningnya  malam,  dan  menunduknya pepohonan dan sebagainya)?

Bahkan masih banyak lagi  pertanyaan  yang  dapat  dan  sering

muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.

 

Yang  pasti  dan  harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan

pernyataan Al-Quran  bahwa,  "Ada  suatu  malam  yang  bernama

Lailat  Al-Qadar,  dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh

berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar

dengan penuh kebijaksanaan."

 

     Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu

     malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi

     peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang

     penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS

     Al-Dukhan [44]: 3-5).

 

Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab  suci

menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan

(QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr

[97]: l).

 

Malam  tersebut  adalah  malam  mulia.  Tidak  mudah diketahui

betapa besar kemuliannnya. Hal  ini  disyaratkan  oleh  adanya

"pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu:

 

     Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS

     Al-Qadr [97]: 2)

 

Tiga belas kali kalimat ma  adraka  terulang  dalam  Al-Quran,

sepuluh  di  antaranya  mempertanyakan  tentang kehebatan yang

berkait dengan hari  kemudian,  seperti:  Ma  adraka  ma  yaum

al-fashl,  dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak

mudah  dijangkau  oleh  akal  pikiran  manusia,  kalau  enggan

berkata  mustahil  dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari

angka tiga belas itu adalah:

 

     Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?

     (QS Al-Thariq [86]: 2)

    

     Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?

     (QS Al-Balad [90]: 12)

    

     Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS

     Al-Qadr [97]: 2)

 

Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan  dengan

objek  pertanyaan  yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat,

dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal

pikiran manusia.

 

Walaupun   demikian,   sementara   ulama   membedakan   antara

pertanyaan ma  adraka  dan  ma  yudrika  yang  juga  digunakan

Al-Quran dalam tiga ayat.

 

     Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah

     dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63)

    

     Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah)

     dekat? (QS Al-Syura [42]: 17~.

    

     Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan

     dosa)? (QS 'Abasa [80]: 3).

 

Dua ayat pertama di  atas  mempertanyakan  dengan  ma  yudrika

menyangkut   waktu   kedatangan  kiamat,  sedang  ayat  ketiga

berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.  Ketiga  hal  tersebut

tidak mungkin diketahui manusia.

 

Secara   gamblang   Al-Quran   --demikian   pula   As-Sunnah--

menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari

kiamat,  tidak  pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini

berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal

yang  tidak  mungkin  diketahui  walau oleh Nabi Saw. sendiri,

sedang wa  ma  adraka,  walau  berupa  pertanyaan  namun  pada

akhirnya  Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga

informasi  lanjutan  dapat  diperoleh  dari  beliau.  Demikian

perhedaan kedua kalimat tersebut.

 

Ini  berarti  bahwa  persoalan  Lailat Al-Qadar, harus dirujuk

kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di  sanalah

kita dapat memperoleh informasinya.

 

Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa

arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai  demikian?  Di

sini ditemukan berbagai jawaban.

 

Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

 

1.  Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami

sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan  hidup  manusia.

Pendapat  ini  dikuatkan  oleh penganutnya dengan firman Allah

dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada  ulama

yang  memahami  penetapan  itu  dalam batas setahun). Al-Quran

yang turun pada malam Lailat Al-Qadar,  diartikan  bahwa  pada

malam  itu  Allah  Swt.  mengatur dan menetapkan khiththah dan

strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw.,  guna  mengajak  manusia

kepada  agama  yang  benar, yang pada akhirnya akan menetapkan

perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai  individu  maupun

kelompok.

 

2.   Kemuliaan.   Malam  tersebut  adalah  malam  mulia  tiada

bandingnya. Ia mulia karena terpilih  sebagai  malam  turunnya

Al-Quran,  serta  karena  ia  menjadi  titik tolak dari segala

kemuliaan yang dapat diraih. Kata  qadar  yang  berarti  mulia

ditemukan  dalam surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang

kaum musyrik:

 

     Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang

     semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak

     menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.

 

3. Sempit. Malam tersebut adalah  malam  yang  sempit,  karena

banyakuya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan

dalam surat Al-Qadr:

 

     Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh

     ((Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala

     urusan.

 

Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara  1ain

dalam surat A1-Ra'd (13): 26:

 

     Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan

     mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).

 

Ketiga arti tersebut  pada  hakikatnya  dapat  menjadi  benar,

karena  bukankah  malam tersebut adalah malam mulia, yang bila

diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan  bahwa  pada

malam  itu  malaikat-malaikat  turun ke bumi membawa kedamaian

dan  ketenangan.  Namun  demikian,  sebelum  kita  melanjutkan

bahasan  tentang  Laitat  Al-Qadar,  maka terlebih dahulu akan

dijawab pertanyaan tentang kehadirannya  adakah  setiap  tahun

atau  hanya  sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas

abad yang lalu?

 

Dari Al-Quran  kita  menemukan  penjelasan  bahwa  wahyu-wahyu

Allah  itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena

umat sepakat mempercayai bahwa  Al-Quran  telah  sempurna  dan

tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka

atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam  mulia

itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh

malam  tersebut  adalah  karena  ia  terpilih  menjadi   waktu

turunnya Al-Quran.

 

Pakar  hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut

paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah  bersabda

bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.

 

Pendapat  tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka

berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak  teks

hadis  yang  menunjukkan  bahwa  Lailat  Al-Qadar terjadi pada

setiap bulan Ramadhan. Bahkan  Rasululllah  Saw.  menganjurkan

umatnya  untuk  mempersiapkan  jiwa menyambut malam mulia itu,

secara khusus pada  malam-malam  ganjil  setelah  berlalu  dua

puluh Ramadhan.

 

[tulisan Arab]

 

Demikian sabda Nabi Saw.

 

Memang  turunnya  Al-Quran  lima  belas abad yang lalu terjadi

pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi  itu  bukan  berarti  bahwa

ketika  itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa

kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu

turun,  tetapi  karena  adanya  faktor  intern  pada malam itu

sendiri.

 

Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk  kata

kerja  mudhari' (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang

mengandung arti kesinambungan, atau  terjadinya  sesuatu  pada

masa kini dan masa datang.

 

Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap

orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya  itu?

Tidak  sedikit  umat  Islam  yang  menduganya  demikian. Namun

dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu  dapat

berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga

baik untuk menyambutnya maupun tidak.  Di  sisi  1ain  berarti

bahwa   kehadirannya   ditandai  oleh  hal-hal  yang  bersifat

fisik-material,  sedangkan  riwayat-riwayat  demikian,   tidak

dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

 

Seandainya,  sekali  lagi  seandainya,  ada  tanda-tanda fisik

material, maka itu pun takkan ditemui  oleh  orang-orang  yang

tidak    mempersiapkan   diri   dan   menyucikan   jiwa   guna

menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin  akan  menyatu  dan

bertemu.  Kebaikan  dan  kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat

Al-Qadar tidak mungkin akan diraih  kecuali  oleh  orang-orang

tertentu  saja.  Tamu  agung  yang  berkunjung ke satu tempat,

tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun

setiap  orang  di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang

sangat rindu atas  kedatangan  kekasih,  namun  ternyata  sang

kekasih tidak sudi mampir menemuinya?

 

Demikian  juga  dengan  Lailat  Al-Qadar.  Itu  sebabnya bulan

Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan  ini  adalah

bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga

oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan  Ramadhan.

Karena,  ketika  itu,  diharapkan  jiwa  manusia yang berpuasa

selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai  satu  tingkat

kesadaran  dan  kesucian  yang  memungkinkan  malam  mulia itu

berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya  Rasul  Saw.

menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan

merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

 

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah  mulai  bersemi,  dan

Lailat  Al-Qadar  datang  menemui seseorang, ketika itu, malam

kehadirannya menjadi saat qadar dalam  arti,  saat  menentukan

bagi  perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat

itu, bagi yang  bersangkutan  adalah  saat  titik  tolak  guna

meraih  kemuliaan  dan  kejayaan hidup di dunia dan di akhirat

kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna  menyertai

dan  membimbingnya  menuju  kebaikan  sampai  terbitnya  fajar

kehidupannya yang baru kelak  di  hari  kemudian.  (Perhatikan

kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).

 

Syaikh  Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali

tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh  memberi

ilustrasi berikut:

 

     Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada

     dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering

     merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang

     terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan

     ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang

     itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu

     mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.

 

Yang  membisikkan  kebaikan  adalah  malaikat,   sedang   yang

membisikkan  keburukan  adalah  setan  atau paling tidak, kata

'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat  atau

setan.  Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui

orang yang mempersiapkan diri  menyambutnya,  menjadikan  yang

bersangkutan  akan  selalu  disertai  oleh  malaikat. Sehingga

jiwanya selalu terdorong  untuk  melakukan  kebaikan-kebaikan,

dan  dia  sendiri  akan  selalu merasakan salam (rasa aman dan

damai) yang tak terbatas sampai fajar malam  Lailat  Al-Qadar,

tapi  sampai  akhir  hayat menuju fajar kehidupan baru di hari

kemudian kelak.

 

Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil

mengamalkan  i'tikaf  di  masjid  dalam  rangka perenungan dan

penyucian jiwa. Masjid adalah tempat  suci.  Segala  aktivitas

kebajikan   bermula   di  masjid.  Di  masjid  pula  seseorang

diharapkan merenung  tentang  diri  dan  masyarakatnya,  serta

dapat  menghindar  dari  hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan

pikiran guna memperoleh tambahan  pengetahuan  dan  pengkayaan

iman.  Itu  sebabnya  ketika  melaksanakan i'tikaf, dianjurkan

untuk  memperbanyak  doa  dan  bacaan  Al-Quran,  atau  bahkan

bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

 

Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali

adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang

diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai

kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan

membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam

perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia.

Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam

rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain

adalah melakukan i'tikaf.

 

Walaupun  i'tikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu

berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i,  walau

sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw.

selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan

puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil

berdoa.

 

Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati

maknanya adalah:

 

     Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan

     di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami

     dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).

 

Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh

kebajikan  dunia  dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih

lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih

kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang

disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk

menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam

kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia,

tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.

 

Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak

menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal  tersebut,

tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar

hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat

terhadap hadis Nabi Saw.

 

Muslim,  Abu  Daud,  dan  Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan

melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut,

 

     Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada

     pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.

 

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,

 

     Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan

     sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula

     panas ...

 

Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan  karena  itu

kita  dapat  berkata  bahwa  tanda  yang  paling jelas tentang

kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian  dan

ketenangan.  Semoga  malam  mulia  itu berkenan mampir menemui

kita.[]

 

----------------

WAWASAN AL-QURAN

Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat

Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Penerbit Mizan

Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124

Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038

mailto:mizan@ibm.net

http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Quraish/Wawasan/LailatulQadar.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar