Friday, 13 April 2007 18:21
Friday, Dec 17th 09:49:48 AM GMT
Keterbatasan fisik tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci masa depan. Hee Ah Lee yang mempunyai empat jari tangan dan kedua kaki hanya sebatas lutut menjadi bukti nyata sebuah mukjizat. Lewat keempat jarinya memainkan tuts piano, Symphony No. 9 karya Bethoven mengalun indah membahana hingga ke surga. Tuhan pun tersenyum.
Hee Ah Lee, kelahiran 9 Juli 1985, sejak kecil mengalami penolakan yang keras dari keluarga dan lingkungannya. Woo Kap Sun (50), sang ibu, dianjurkan keluarganya agar menggugurkan kandungannya. Bahkan setelah lahir pun, anak yang dianggap aib itu disarankan agar diserahkan ke panti asuhan.
Meski puterinya terlahir cacat, mempunyai empat jari tangan yang dalam istilah kedokteran disebut lobster claw syndrome dan kedua kakinya hanya sebatas lutut serta mengalami keterbelakangan mental, Woo Kap Sun tetap menjaga dan mengasuhnya penuh kasih. Bahkan sebagai ungkapan syukurnya kepada Tuhan, ia menamai anaknya dengan nama indah. Hee dalam bahasa Korea berarti sukacita dan Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh. Sedangkan Lee merupakan nama keluarga. Jadi, Hee Ah Lee berarti sukacita yang terus tumbuh seperti tunas pohon.
Selain mengurus Hee, sang ibu juga harus merawat suaminya yang veteran tentara Korea. Sejak berhenti dari dunia militer, suaminya didera penyakit yang mengharuskannya mengonsumsi berbagai obat-obatan penghilang rasa sakit. Sambil merawat Hee dan suaminya, sang ibu bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Hee sering ikut ibunya ke rumah sakit. Saat ibunya bekerja, Hee berlatih memainkan piano di rumah sakit itu. Ini berlangsung selama 10 tahun. Sebagai perawat, penghasilan ibunya terbilang pas-pasan. Itu pun sudah habis membeli obat untuk suaminya.
Kerasnya hidup seolah tiada henti menerpa. Ibunya divonis dokter terkena kanker payudara. Di saat yang bersamaan, Hee jatuh sakit karena luka di lututnya. Luka itu disebabkan Hee terlalu sering berjalan menggunakan lututnya. Hee masuk rumah sakit dan dioperasi. Selain itu, ayahnya juga sedang sakit parah.
Waktu terus berlalu, Hee semakin besar. Sejak usia enam tahun, Hee dengan tekun melatih jari-jarinya memainkan tuts piano sebab pada masing-masing ujung tangan Hee terdapat dua jari yang membentuk huruf V seperti capit kepiting. Kakinya hanya sebatas bawah lutut hingga tak dapat menginjak pedal piano standar. Untuk bermain piano, pedal sengaja ditinggikan agar bisa diinjak oleh kakinya yang pendek itu. Selama berlatih, satu lagu masing-masing dikuasainya dalam tempo satu tahun. Bahkan, pada reportoar Liebestraum karya F. Liszt, ia mengakui berlatih sepuluh jam sehari selama lima tahun. Itu sebuah permainan sulit, bahkan kedua jari kirinya harus menjelajah jauh hingga tuts di wilayah jari kanannya. Guru piano yang mengajarinya pun sudah berganti hingga lima kali.
Saat Hee mulai dikenal oleh publik Korea, ayahnya menghadap Yang Kuasa. Namun itu, tidak menyurutkan ibunya dan Hee untuk terus mengharap masa depan. Mereka tetap tersenyum menghargai hidup. Berkat kesabaran, ketekunan dan cinta yang sangat besar dari sang ibu, Hee sudah bisa memainkan berbagai nomor dari maestro dunia seperti Chopin, Bethoven dan Mozart. Umur 12 tahun, Hee telah menggelar resital piano tunggal. Hee yang telah diangkat sebagai warga kehormatan Korea ini telah mengeluarkan satu album bertitel Hee Ah, A Pianist with Four Finger (2005). Dia juga pernah pentas bersama pianis kondang Richard Clayderman di Gedung Putih, Washington. Belum lama ini, pianis berukuran 103 sentimeter dengan berat 33 kilogram ini menggelar konser di Jakarta dengan tema Sharing the Strength of Love (31/3), yang merupakan rangkaian turnya keliling Asia. Dalam rangkaian konsernya ini, Hee tidak lupa berucap, “Terlahir cacat itu bagiku merupakan anugerah spesial dari Tuhan. Aku sampaikan pesan bahwa kalian bisa melakukan apa pun.” MLP (Berita Indonesia 36)
http://www.beritaindonesia.co.id/feature/sebuah-mukjizat-indah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar